Anak-anak masa kini tumbuh di tengah
pesatnya perkembangan teknologi, di mana gawai seperti ponsel atau tablet
semakin mudah diakses dan digunakan. Istilah ‘brainrot’ merujuk pada penurunan
kemampuan mental atau intelektual, yang sering dianggap sebagai akibat
dari konsumsi konten digital berlebihan, terutama konten
online. Penggunaan gawai secara berlebihan dapat mengganggu koneksi antar
bagian otak anak. Saat anak terlalu lama menatap layar, otaknya tidak
aktif sebagaimana saat bereksplorasi dengan lingkungan sekitar. Akibatnya, waktu
layar yang berlebihan justru bisa menghambat perkembangan otak anak.
Apa saja bahayanya? Yuk langsung saja kita simak penjelasan
berikut ini:
1. Penggunaan gawai yang berlebihan
berisiko mengganggu perkembangan otak, khususnya otak kecil (cerebellum).
Bagian otak ini sangat penting karena berperan dalam fungsi eksekutif yang
mengatur koordinasi gerakan, kemampuan berbicara, serta berbagai proses
berpikir lainnya. Kerusakan otak akibat kecanduan gawai juga dapat mengganggu
kemampuan otak untuk mengingat, merencanakan sesuatu, dan membuat keputusan.
2. Anak menjadi kurang peka secara
emosional, mengalami kelelahan berpikir, dan memiliki pandangan negatif tentang
diri sendiri, pada akhirnya dapat memicu stres, cemas, dan depresi.
3. Gawai dirancang untuk terus
memberikan rangsangan yang memicu produksi dopamine zat kimia di otak yang
menimbulkan rasa senang. Akibatnya, anak cenderung sulit berhenti menggunakan
gawai karena otaknya terus mencari rasa senang itu.
4. Gangguan konsentrasi dan perhatian,
anak yang terlalu sering terpapar gawai, terutama dengan konten yang cepat
berubah dan sangat merangsang (seperti video pendek atau animasi dengan
potongan cepat), cenderung mengalami kesulitan untuk fokus dalam waktu lama,
karena ia cepat bosan, gelisah, atau mudah teralihkan. Hal ini berdampak
negatif pada kemampuan mereka untuk menyerap informasi secara mendalam.
5. Penurunan kemampuan bahasa dan
sosial. Anak usia dini perlu sering berinteraksi langsung dengan orang lain
untuk mengembangkan kemampuan berbahasa. Tapi jika anak lebih sering bermain
gawai daripada berbicara dengan orang tua, guru, atau teman, maka kemampuan
bicara dan kosa kata mereka bisa terhambat. Konten di layar biasanya bersifat
pasif, sehingga anak tidak terbiasa interaksi dua arah, seperti menjawab, atau
menyampaikan pikirannya sendiri, padahal hal tersebut penting untuk
perkembangan bahasa dan sosial anak.
Ayah,
Bunda, melihat
beberapa ancaman/bahaya brainrot akibat paparan gawai di atas, sudah semestinya
kita mengambil langkah bijak melindungi anak-anak kita dengan cara:
1. mengatur waktu penggunaan gawai;
2. memilih konten digital yang sesuai;
3. melibatkan anak dalam aktivitas
non-digital seperti mengajak anak mengeksplorasi berbagai hal yang ada di sekitar lingkungan.
Yuk, lindungi masa depan anak dari risiko brainrot dengan membiasakan aktivitas non-digital setiap hari!!!
Sumber : PAUDPEDIA

