Fenomena "BRAINROT"

0

Anak-anak masa kini tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi, di mana gawai seperti ponsel atau tablet semakin mudah diakses dan digunakan. Istilah ‘brainrot’ merujuk pada penurunan kemampuan mental atau intelektual, yang sering dianggap sebagai akibat dari konsumsi konten digital berlebihan, terutama konten online. Penggunaan gawai secara berlebihan dapat mengganggu koneksi antar bagian otak anak. Saat anak terlalu lama menatap layar, otaknya tidak aktif sebagaimana saat bereksplorasi dengan lingkungan sekitar. Akibatnya, waktu layar yang berlebihan justru bisa menghambat perkembangan otak anak.

 

Apa saja bahayanya? Yuk langsung saja kita simak penjelasan berikut ini:

1.   Penggunaan gawai yang berlebihan berisiko mengganggu perkembangan otak, khususnya otak kecil (cerebellum). Bagian otak ini sangat penting karena berperan dalam fungsi eksekutif yang mengatur koordinasi gerakan, kemampuan berbicara, serta berbagai proses berpikir lainnya. Kerusakan otak akibat kecanduan gawai juga dapat mengganggu kemampuan otak untuk mengingat, merencanakan sesuatu, dan membuat keputusan.

2.  Anak menjadi kurang peka secara emosional, mengalami kelelahan berpikir, dan memiliki pandangan negatif tentang diri sendiri, pada akhirnya dapat memicu stres, cemas, dan depresi.

3.   Gawai dirancang untuk terus memberikan rangsangan yang memicu produksi dopamine zat kimia di otak yang menimbulkan rasa senang. Akibatnya, anak cenderung sulit berhenti menggunakan gawai karena otaknya terus mencari rasa senang itu.

4.  Gangguan konsentrasi dan perhatian, anak yang terlalu sering terpapar gawai, terutama dengan konten yang cepat berubah dan sangat merangsang (seperti video pendek atau animasi dengan potongan cepat), cenderung mengalami kesulitan untuk fokus dalam waktu lama, karena ia cepat bosan, gelisah, atau mudah teralihkan. Hal ini berdampak negatif pada kemampuan mereka untuk menyerap informasi secara mendalam.

5.  Penurunan kemampuan bahasa dan sosial. Anak usia dini perlu sering berinteraksi langsung dengan orang lain untuk mengembangkan kemampuan berbahasa. Tapi jika anak lebih sering bermain gawai daripada berbicara dengan orang tua, guru, atau teman, maka kemampuan bicara dan kosa kata mereka bisa terhambat. Konten di layar biasanya bersifat pasif, sehingga anak tidak terbiasa interaksi dua arah, seperti menjawab, atau menyampaikan pikirannya sendiri, padahal hal tersebut penting untuk perkembangan bahasa dan sosial anak. 

 

Ayah, Bundamelihat beberapa ancaman/bahaya brainrot akibat paparan gawai di atas, sudah semestinya kita mengambil langkah bijak melindungi anak-anak kita dengan cara:

1.      mengatur waktu penggunaan gawai;

2.      memilih konten digital yang sesuai;

3. melibatkan anak dalam aktivitas non-digital seperti mengajak anak mengeksplorasi berbagai hal yang ada di sekitar lingkungan.


Yuk, lindungi masa depan anak dari risiko brainrot dengan membiasakan aktivitas non-digital setiap hari!!! 

 

Sumber : PAUDPEDIA

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)